Bayangan Hitam di Rumah Bung Karno
GAYA HIDUP NEWS PERISTIWA

Bayangan Hitam di Rumah Bung Karno

Bayangan Hitam di Rumah Bung Karno

PertiwiNews.com :Bengkulu – Rumah yang menjadi tempat tinggal Presiden Pertama RI Sukarno atau Bung Karno selama diasingkan di Bengkulu pada 1938  hingga 1942 ternyata memiliki kisah mistis yang jarang terungkap. Rumah yang terletak di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Anggut Atas,
itu memancarkan aura magis yang langsung terasa begitu menjejakkan kaki menelusuri halaman sepanjang 50 meter.

Menurut Wawan Setiawan, penjaga rumah Bung Karno, halaman yang luas dengan tiang bendera persis di tangga batu di depan teras itu
sering mengeluarkan bunyi yang tak lazim saat tengah malam. Bunyi derap langkah pasukan tentara dan suara orang menertibkan barisan
bersahut-sahutan hingga beberapa menit.

“Seperti suara banyak orang yang sedang melakukan upacara bendera,” ujar Wawan di Bengkulu, Senin, 24 Juli 2017.

Peristiwa unik juga pernah terjadi di teras depan rumah yang disewa pemerintah kolonial Belanda dari seorang saudagar Tiongkok untuk
ditempati Bung Karno bersama istrinya, Inggit Ganarsih, dan anak angkatnya Ratna Djuami itu.

Saat itu, salah seorang anggota Satpol PP pernah sesumbar mengatakan bahwa rumah tersebut tidak ada apa-apa dengan nada menantang.
Pada malamnya, anggota Satpol PP itu melihat ada sesosok makhluk berwarna hitam berjalan dari dalam rumah berukuran sebesar botol
minuman.

Semakin ke arah keluar, tubuhnya semakin membesar dan meninggi. Hingga akhirnya saat berada di halaman dekat tiang bendera,
makhluk itu semakin besar dan melebihi tinggi tiang bendera, sehingga menutupi pemandangan ke arah jalan raya.

“Sejak itu setahun lalu, dia jatuh sakit dan sering mengigau sampai sekarang belum juga sembuh,” kata Wawan.

Salah seorang pengunjung kediaman Bung Karno asal Jakarta, Suripno, mengaku merasakan aura mistis yang sangat kuat saat berada di dalam kamar tidur Bung Karno bersama Inggit Ganarsih.

Ruangan berdinding tembok yang di tengahnya hanya berupa susunan bilah atau bidai tanpa bata itu terasa sangat dingin meskipun saat itu sudah pukul 10.00 siang.

“Kuat sekali aura yang saya rasakan di sini,” kata Suripno.

Dia pun mencoba untuk melakukan proses penenangan dengan berwudu di sumur belakang dan melakukan salat Duha di dalam kamar tidur Bung Karno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *